Otonomi Daerah dan Kewenangan

Membicarakan otonomi daerah tidak bisa terlepas dari masalah pembagian kekuasaan secara vertikal sesuatu negara. Dalam sistem ini, kekuasaan negara akan terbagi antara ‘pemerintah pusat’ disatu pihak, dan ‘pemerintah daerah’ di lain pihak. Sistem pembagian kekuasaan dalam rangka penyerahan kewenangan otonomi daerah, antara negara yang satu dengan negara yang lain, tidak akan sama, termasuk Indonesia yang kebetulan menganut sistem Negara Kesatuan.

Inti yang terpenting dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan pemerintah daerah (discretionery power) untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar prakarsa, kreativitas dan peran-serta aktif masyarakat dalam rangka mengembangkan dan memajukan daerahnya. Memberikan otonomi daerah tidak hanya berarti melaksanakan demokrasi dilapisan bawah, tetapi juga mendorong oto-aktivitas untuk melaksanakan sendiri apa yang dianggap penting bagi lingkungan sendiri.

Dengan berkembangnya pelaksanaan demokrasi dari bawah, maka rakyat tidak saja dapat menentukan nasibnya sendiri melalui pemberdayaan masyarakat, melainkan juga dan terutama memperbaiki nasibnya sendiri. Hal itu hanya mungkin terjadi, apabila pemerintahan pusat mempunyai kesadaran dan keberanian politik, serta kemauan politik yang kuat untuk memberikan kewenagan yang cukup luas kepada pemerintah daerah guna mengatur dan mengurus serta mengembangkan daerahnya, sesuai dengan kepentingan dan potensi daerahnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Sekilas Tentang Budaya Organisasi

Budaya adalah sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dan terikat secara formal dalam satu ikatan hierarki di mana selalu terdapat hubungan antara seseorang atau sekelompok orang yang disebut pimpinan, dan seseorang atau sekelompok orang yang di sebut bawahan.

Dari pengertian diatas maka yang yang dimaksud dengan budaya organisasi adalah suatu sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi. Budaya organisasi dianggap sebagai alat untuk menentukan arah organisasi, mengarahkan apa yang boleh dilakukan dan tidak dilakukan dan bagaimana mengalokasikan sumberdaya, mengelola sumber daya organisasional dan SDM, dan sebagai alat untuk menghadapi masalah dari peluang dan lingkungan. Dari pengertian budaya organisasi tersebut menyiratkan tiga hal, antara lain :

  1. Budaya organisasi berkaitan dengan nilai yang dianut oleh seluruh anggota organisasi. Nilai-nilai tersebut menginspirasikan individu untuk menentukan tindakan dan perilaku yang dapat diterima oleh organisasi.
  2. Nilai yang membentuk budaya organisasi seringkali diterima begitu saja, tidak tertulis, tapi merupakan hasil suatu kompromi bersama para anggota organisasi.
  3. Adanya aribut sebagai bahasa komunikasi untuk menstransfer nilai-nilai budaya. Aribut yang digunakan organisasi mengandung pesan atau makna yang dapat dipahami segenap anggota organisasi.

Dengan demikian budaya organisasi dapat meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi dan meningkatkan konsistensi dari perilaku karyawan. Budaya organisasi dikembangkan terus-menerus di dalam organisasi yang pada dasarnya bersumber dari pimpinan organisasi dengan dukungan semua orang di dalam organisasi. Oleh karena itu perubahan-perubahan di dalam organisasi yang juga melibatkan orang-orang di dalam organisasi. Agar lembaga memiliki budaya organisasi yang baik dan agar tujuan bisa tercapai secara optimal, maka budaya organisasi perlu dikelola secara efektif.

Sumber :

Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, M.PA. dan Dr. M. Sobry Sutikno, Kepemimpinan Sekarang dan Masa Depan Dalam Membentuk Budaya Organisasi Yang Efektif,  Prospect, 2009

Hubungan Antara Kepemimpinan Dengan Budaya Organisasi

Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang dapat hidup tanpa tergantung ataupun memerlukan bantuan orang lain. Manusia selalu hidup berkelompok, bersuku-suku hingga berbangsa-bangsa. Oleh karena itu konsekuensinya setiap individu harus dapat beradaptasi dengan kelompok, agar dapat diterima dan merasa aman serta nyaman didalamnya. Untuk menjadi orang yang diterima orang lain, diperlukan usaha-usaha tertentu untuk mencuri hati orang lain tersebut. Hal ini merupakan arah seseorang untuk menjadi pemimpin dari kelompoknya. Diharapkan nantinya kepemimpinan seseorang dapat menyentuh berbagai segi kehidupan manusia seperti cara hidup, kesempatan berkarya, bertetangga, bermasyarakat bahkan bernegara.

Antara kepemimpinan dengan budaya organisasi memiliki hubungan yang sangat erat. Kepemimpinan dan budaya organisasi merupakan fenomena yang sangat bergantung, sebab setiap aspek dari kepemimpinan akhirnya membentuk budaya organisasi. Bila kita memasuki ruang perkantoran suatu organisasi akan berbeda dengan kantor organisasi lain yang memiliki pemimpin yang berbeda. Fenomena yang kita dapatkan pada suatu organisasi, seperti : etos kerja karyawan, team work, kesejukan, ketenangan, sikap, keramah tamahan, integritas, dll, yang kesemuanya menggambarkan kepemimpinan yang ada dalam organisasi tersebut dan juga menggambarkan budaya yang ada dalam organisasi. Sehingga dikatakan bahwa melihat kepemimpinan suatu organisasi itu sama dengan melihat budaya yang ada dalam organisasi tersebut, perumpamaannya bagaikan dua sisi mata uang yang memiliki nilai yang sama. Dalam hal ini ada dua konsep berbalik, yaitu :

a.            Budaya diciptakan oleh pemimpin-pemimpinnya.

b.            Pemimpin-pemimpin diciptakan oleh budaya.

Bila perilaku bawahan sesuai dengan program yang telah digariskan oleh pimpinan, maka nilai yang diperolehnya adalah tinggi, dan sebaliknya bila perilaku individu dalam organisasi jauh dari kebenaran sebagaimana yang dituangkan dalam program kerja oleh pemimpin, maka disitu nilainya rendah. Dengan demikian budaya diciptakan oleh pemimpinnya.

Dari uraian diatas, nampak jelas bahwa antara kepemimpinan dengan budaya organisasi mempunyai hubungan yang sangat erat sekali. Sehingga dikatakan bahwa melihat kepemimpinan suatu organisasi itu sama dengan melihat budaya yang ada dalam organisasi tersebut.

Sumber :

Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, M.PA. dan Dr. M. Sobry Sutikno, Kepemimpinan Sekarang dan Masa Depan Dalam Membentuk Budaya Organisasi Yang Efektif,  Prospect, 2009


Orientasi Pemimpin

Studi Michigan menemukan bahwa pemimpin mempunyai dua orientasi yakni (1) orientasi tugas/pekerjaan yaitu kepemimpinan yang ditunjukan dengan focus kepada pekerjaan-pekerjaan serta tanggungjawab  (2) orientasi hubungan manusia yaitu kepemimpinan yang ditunjukan seseorang dengan memperhatikan kinerja serta hubungan diantara para bawahan. Untuk melihat perbedaan sikap  dan perilaku pemimpin berdasarkan dua orientasi tersebut dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Sumber :

Dodi Wirawan Irawanto, Kepemimpinan (Esensi dan Realitas), Bayu Media Publishing, Malang, 2008

Kepemimpinan Efektif

Lebih dari ratusan ribu artikel penelitian maupun buku mencoba untuk mendefinisikan arti kepemimpinan. Sebagai konsekuensinya kepemimpinan diartikan dalam berbagai cara, seperti :

  • Seni dalam mempengaruhi orang lain
  • Kemampuan mempengaruhi secara pribadi, dengan menggunakan komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu
  • Kepemimpinan merupakan tiga fungsi dari (1) distribusi kewajiban bagi seluruh anggota organisasi, (2) mengajak aktif anggota organisasi untuk bersama-sama mencapai tujuan, dan (3) meminta konstribusi aktif mereka dalam pengambilan keputusan.

Banyak didalam memahami arti kepemimpinan, dari sisi teori, praktik, semuanya kita butuhkan dalam memformulasikan bagaimana proses kepemimpinan yang baik harus kita lakukan. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan disajikan kerangka dari proses kepemimpinan.

Bisa dilihat bahwa kepemimpinan efektif merupakan bentukan dari beberapa aspek yakni aspek situasional baik eksternal maupun internal, karakterisik dan ciri pemimpin, karakteristik dari bawahan, dan perilaku pemimpin sera gaya kepemimpinannya. Tanda panah tersebut merupakan hubungan timbal balik diantara keempat variable utama tersebut.

Sumber :

Dodi Wirawan Irawanto, Kepemimpinan (Esensi dan Realitas), Bayu Media Publishing, Malang, 2008

Si Kabayan Ngala Tutut

Cék Ninina, “Kabayan ulah héés beurang teuing, euweuh pisan gawé sia mah, ngala-ngala tutut atuh da ari nyatu mah kudu jeung lauk.”

Cék Si Kabayan, “Ka mana ngalana?”

Cék ninina, “Ka ditu ka sawah ranca, nu loba mah sok di sawah nu meunang ngagaru geura.

Léos Si Kabayan leumpang ka sawah nu meunang ngagaru. Di dinya katémbong tututna loba, lantaran caina hérang, jadi katémbong kabéh. Tututna pating golétak. Tapi barang diteges-teges ku Si Kabayan katémbong kalangkang langit dina cai. Manéhna ngarasa lewang neuleu sawah sakitu jerona. Padahal mah teu aya sajeungkal-jeungkal acan, siga jero sotéh kalangkang langit. Cék Si Kabayan dina jero pikirna, “Ambu-ambu, ieu sawah jero kabina-bina caina. Kumaha dialana éta tutut téh? Lamun nepi ka teu beunang, aing éra teuing ku Nini. Tapi éta tutut téh sok dialaan ku jalma. Ah, dék dileugeutan baé ku aing.”

Geus kitu mah Si Kabayan léos ngala leugeut. Barang geus meunang, dibeulitkeun kana nyéré, dijejeran ku awi panjang, sabab pikirna dék ti kajauhan baé ngala tutuna moal deukeut-deukeut sieun tikecebur. Si Kabayan ngadekul, ngaleugeutan tutut méh sapoé jeput, tapi teu aya beubeunanganana, ngan ukur hiji dua baé. Kitu ogé lain beunang ku leugeut, beunang sotéh lantaran ku kabeneran baé. Tutut keur calangap, talapokna katapelan ku leugeut tuluy nyakop jadi beunang. Lamun teu kitu mah luput moal beubeunangan pisan, sabab ari di jero cai mah éta leugeut téh teu daékeun napel, komo deui tutut mah da aya leuleueuran. Di imah ku ninina didagoan, geus ngala salam, séréh jeung konéng keur ngasakan tutut. Lantaran ambleng baé, tuluy disusul ku ninina ka sawah. Kasampak Si Kabayan keur ngaleugeutan tutut.

Cék ninina, “Na Kabayan, ngala tutut dileugeutan?”

Cék Si Kabayan, “Kumaha da sieun tikecebur, deuleu tuh sakitu jerona nepi ka katémbong langit.”

Ninina keuheuleun. Si Kabayan disuntrungkeun brus ancrub ka sawah.

Cék Si Kabayan, “Heheh él da déét.”

Si Kabayan Ngala Nangka

Si Kabayan dititah ngala nangka ku mitohana. “Nu kolot ngala nangka téh, Kabayan!” Ceuk mitohana. Kencling Si Kabayan ka kebon, nyorén bedog rék ngala nangka. Barang nepi ka kebon, Si Kabayan alak-ilik kana tangkal nangka. Manggih nu geus kolot hiji tur gedé pisan. Tuluy waé diala. Barang dipanggul kacida beuratna.

“Wah, moal kaduga yeuh mawana, “ pikir Si Kabayan téh. Tuluy wé nangka téh ku Si Kabayan dipalidkeun ka walungan. Jung waé balik ti heula, da geus kolot ieuh!” ceuk Si Kabayan téh nyarita ka nangka.

Barang tepi ka imah, Si Kabayan ditanya ku mitohana.

“Kabayan, meunang ngala nangka téh?”

“Komo wé meunang mah, nya gedé nya kolot,” témbal Si Kabayan.

“Mana atuh ayeuna nangkana?” Mitohana nanya.

“Har, naha can datang kitu? Apan tadi téh dipalidkeun dititah balik ti heula, ceuk Si Kabayan téh.

“Ari manéh, na mana bodo-bodo teuing. Moal enya nangka bisa balik sorangan!” Mitoha Si Kabayan keuheuleun pisan.

“Wah nu bodo mah nangkana, kolot-kolot teu nyaho jalan balik,” ceuk Si Kabayan bari ngaléos.