Sekilas Tentang Budaya Organisasi

Budaya adalah sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dan terikat secara formal dalam satu ikatan hierarki di mana selalu terdapat hubungan antara seseorang atau sekelompok orang yang disebut pimpinan, dan seseorang atau sekelompok orang yang di sebut bawahan.

Dari pengertian diatas maka yang yang dimaksud dengan budaya organisasi adalah suatu sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi. Budaya organisasi dianggap sebagai alat untuk menentukan arah organisasi, mengarahkan apa yang boleh dilakukan dan tidak dilakukan dan bagaimana mengalokasikan sumberdaya, mengelola sumber daya organisasional dan SDM, dan sebagai alat untuk menghadapi masalah dari peluang dan lingkungan. Dari pengertian budaya organisasi tersebut menyiratkan tiga hal, antara lain :

  1. Budaya organisasi berkaitan dengan nilai yang dianut oleh seluruh anggota organisasi. Nilai-nilai tersebut menginspirasikan individu untuk menentukan tindakan dan perilaku yang dapat diterima oleh organisasi.
  2. Nilai yang membentuk budaya organisasi seringkali diterima begitu saja, tidak tertulis, tapi merupakan hasil suatu kompromi bersama para anggota organisasi.
  3. Adanya aribut sebagai bahasa komunikasi untuk menstransfer nilai-nilai budaya. Aribut yang digunakan organisasi mengandung pesan atau makna yang dapat dipahami segenap anggota organisasi.

Dengan demikian budaya organisasi dapat meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi dan meningkatkan konsistensi dari perilaku karyawan. Budaya organisasi dikembangkan terus-menerus di dalam organisasi yang pada dasarnya bersumber dari pimpinan organisasi dengan dukungan semua orang di dalam organisasi. Oleh karena itu perubahan-perubahan di dalam organisasi yang juga melibatkan orang-orang di dalam organisasi. Agar lembaga memiliki budaya organisasi yang baik dan agar tujuan bisa tercapai secara optimal, maka budaya organisasi perlu dikelola secara efektif.

Sumber :

Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, M.PA. dan Dr. M. Sobry Sutikno, Kepemimpinan Sekarang dan Masa Depan Dalam Membentuk Budaya Organisasi Yang Efektif,  Prospect, 2009

Hubungan Antara Kepemimpinan Dengan Budaya Organisasi

Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang dapat hidup tanpa tergantung ataupun memerlukan bantuan orang lain. Manusia selalu hidup berkelompok, bersuku-suku hingga berbangsa-bangsa. Oleh karena itu konsekuensinya setiap individu harus dapat beradaptasi dengan kelompok, agar dapat diterima dan merasa aman serta nyaman didalamnya. Untuk menjadi orang yang diterima orang lain, diperlukan usaha-usaha tertentu untuk mencuri hati orang lain tersebut. Hal ini merupakan arah seseorang untuk menjadi pemimpin dari kelompoknya. Diharapkan nantinya kepemimpinan seseorang dapat menyentuh berbagai segi kehidupan manusia seperti cara hidup, kesempatan berkarya, bertetangga, bermasyarakat bahkan bernegara.

Antara kepemimpinan dengan budaya organisasi memiliki hubungan yang sangat erat. Kepemimpinan dan budaya organisasi merupakan fenomena yang sangat bergantung, sebab setiap aspek dari kepemimpinan akhirnya membentuk budaya organisasi. Bila kita memasuki ruang perkantoran suatu organisasi akan berbeda dengan kantor organisasi lain yang memiliki pemimpin yang berbeda. Fenomena yang kita dapatkan pada suatu organisasi, seperti : etos kerja karyawan, team work, kesejukan, ketenangan, sikap, keramah tamahan, integritas, dll, yang kesemuanya menggambarkan kepemimpinan yang ada dalam organisasi tersebut dan juga menggambarkan budaya yang ada dalam organisasi. Sehingga dikatakan bahwa melihat kepemimpinan suatu organisasi itu sama dengan melihat budaya yang ada dalam organisasi tersebut, perumpamaannya bagaikan dua sisi mata uang yang memiliki nilai yang sama. Dalam hal ini ada dua konsep berbalik, yaitu :

a.            Budaya diciptakan oleh pemimpin-pemimpinnya.

b.            Pemimpin-pemimpin diciptakan oleh budaya.

Bila perilaku bawahan sesuai dengan program yang telah digariskan oleh pimpinan, maka nilai yang diperolehnya adalah tinggi, dan sebaliknya bila perilaku individu dalam organisasi jauh dari kebenaran sebagaimana yang dituangkan dalam program kerja oleh pemimpin, maka disitu nilainya rendah. Dengan demikian budaya diciptakan oleh pemimpinnya.

Dari uraian diatas, nampak jelas bahwa antara kepemimpinan dengan budaya organisasi mempunyai hubungan yang sangat erat sekali. Sehingga dikatakan bahwa melihat kepemimpinan suatu organisasi itu sama dengan melihat budaya yang ada dalam organisasi tersebut.

Sumber :

Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, M.PA. dan Dr. M. Sobry Sutikno, Kepemimpinan Sekarang dan Masa Depan Dalam Membentuk Budaya Organisasi Yang Efektif,  Prospect, 2009


Orientasi Pemimpin

Studi Michigan menemukan bahwa pemimpin mempunyai dua orientasi yakni (1) orientasi tugas/pekerjaan yaitu kepemimpinan yang ditunjukan dengan focus kepada pekerjaan-pekerjaan serta tanggungjawab  (2) orientasi hubungan manusia yaitu kepemimpinan yang ditunjukan seseorang dengan memperhatikan kinerja serta hubungan diantara para bawahan. Untuk melihat perbedaan sikap  dan perilaku pemimpin berdasarkan dua orientasi tersebut dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Sumber :

Dodi Wirawan Irawanto, Kepemimpinan (Esensi dan Realitas), Bayu Media Publishing, Malang, 2008

Kepemimpinan Efektif

Lebih dari ratusan ribu artikel penelitian maupun buku mencoba untuk mendefinisikan arti kepemimpinan. Sebagai konsekuensinya kepemimpinan diartikan dalam berbagai cara, seperti :

  • Seni dalam mempengaruhi orang lain
  • Kemampuan mempengaruhi secara pribadi, dengan menggunakan komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu
  • Kepemimpinan merupakan tiga fungsi dari (1) distribusi kewajiban bagi seluruh anggota organisasi, (2) mengajak aktif anggota organisasi untuk bersama-sama mencapai tujuan, dan (3) meminta konstribusi aktif mereka dalam pengambilan keputusan.

Banyak didalam memahami arti kepemimpinan, dari sisi teori, praktik, semuanya kita butuhkan dalam memformulasikan bagaimana proses kepemimpinan yang baik harus kita lakukan. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan disajikan kerangka dari proses kepemimpinan.

Bisa dilihat bahwa kepemimpinan efektif merupakan bentukan dari beberapa aspek yakni aspek situasional baik eksternal maupun internal, karakterisik dan ciri pemimpin, karakteristik dari bawahan, dan perilaku pemimpin sera gaya kepemimpinannya. Tanda panah tersebut merupakan hubungan timbal balik diantara keempat variable utama tersebut.

Sumber :

Dodi Wirawan Irawanto, Kepemimpinan (Esensi dan Realitas), Bayu Media Publishing, Malang, 2008

PENGARUH KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

Meskipun hanya merupakan salah satu faktor dari banyak faktor berpengaruh lainnya, kepuasan kerja juga mempengaruhi tingkat kinerja karyawan. Dengan kepuasan kerja yang diperoleh. diharapkan kinerja karyawan yang tinggi dapat dicapai para karyawan. Tanpa adanya kepuasan kerja, karyawan akan bekerja tidak seperti apa yang diharapkan oleh perusahaan, maka akibatnya kinerja karyawan menjadi rendah, sehingga tujuan perusahaan secara maksimal tidak akan tercapai. Baca lebih lanjut

TUJUAN PENGUKURAN KINERJA KARYAWAN

Menurut Joseph Tiffin yang dikutip oleh Henry Simamora dalam buku “Manajemen Sumber Daya Manusia” (1995:344-345), tujuan mengevaluasi kinerja karyawan dapat dikategorikan atas dua tujuan pokok, yaitu:

Untuk tujuan administrasi pengambilan keputusan promosi dan mutasi, misalnya:

  • Sebagai dasar pengambilan keputusan promosi dan mutasi. Untuk menentukan jenis-jenis latihan kerja yang diperlukan.
  • Sebagai kriteria seleksi dan penempatan karyawan.
  • Sebagai dasar penilaian program latihan dan efektivitas jadwal kerja, metode kerja, struktur organisasi, sistem pengawasan, kondisi kerja dan peralatan.

METODE PENGUKURAN KINERJA KARYAWAN

Secara teoretikal berbagai metode dan teknik mempunyai sasaran yang sama, yaitu menilai prestasi kerja para karyawan secara obyektif untuk suatu kurun waktu tertentu dimasa lalu yang hasilnya bermanfaat bagi organisasi atau perusahaan, seperti untuk kepentingan mutasi pegawai maupun bagi pegawai yang bersangkutan sendiri dalam rangka pengembangan karirnya. Untuk mencapai kedua sasaran tersebut maka digunakanlah berbagai metode pengukuran kinerja karyawan menurut Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan dalam bukunya “Manajemen Personalia” (1984:122-127) yang dewasa ini dikenal dan digunakan adalah : Baca lebih lanjut